​Fiqh Lemah Jihadis Menghadapi Pilkada

​Fiqh Lemah Jihadis Menghadapi Pilkada
Satu hari sebelum pencoblosan beredar tulisan tantang sikap golput, dengan beragumen sikap-sikap tampa kompromi, bahwa sikap golput terkesan sikap yang baik, teguh, istiqomah bak batu karang yang tak tergoyahkan, tulisan itu beredar pada sore menjelang malam satu hari sebelum pencoblosan, padahal sikap keras tersebut bukanlah dalil syar’i yang di bangun dengan cara-cara mencari kepastian hukum, tulisan tersebut hanya penguat dan pembenar akan sikap golput yang di anut sebagian kelompok jihadis.
Saya mencoba menanggapi tulisan tersebut akan tetapi ternyata tulisan sudah 3 tahun berlalu, saya urungkan karena sudah tidak relevan lagi, akan tetapi entah siapa yang mengeluarkan tulisan tersebut disaat seperti ini, seiring beredarnya tulisan di atas ditambah muncul tulisan baru dari El-hakimi dengan istilah golputer aqidah, entah mengambil data dari mana dia mengklaim bahwa golputer aqidah menampati rangking paling bawah dalam penyebab kekalahan, seakan ingin lari dari penyebab kekalahan, efeknya banyak di grup jihadis mulai mengkampanyekan sikap barra’ dari syirik demokrasi, sikap masiv tentang demokrasi sebagai sistem kufur menyebar luas, tulisan tersebut telah melegitimasi akan benarnya sikap golput disaat genting seperti tadi, nyoblos untuk menghindari pemimpin kafir bak seperti orang murtad dari Islam, dia seperti dosa kabair yang tidak di ampuni sampai dia harus berintighfar dulu sebelum menyoblos, saya menganggap tulisan-tulisan tersebut tidak tepat di keluarkan saat ini, disaat ummat sedang berjibaku menghadapi agresor aqidah, di saat ummat islam bersusah payah memilih pemimpin ummat di jakarta, jika boleh dikatakan fatwa, maka itu fatwa sepihak dari sebuah kaum yang cenderung  fatwa dengan pertimbangan fiqh lemah. 
Menurut saya tulisan tersebut sejatinya adalah sikap membela golput, pada dasarnya kami setuju dan sepakat bahwa demokrasi adalah sistem kufur dan bukan dari islam, akan tetapi kekufuran demokrasi itu berbeda dengan dukun dan sihir, kekufuran demokrasi adalah masalah khofiyah( samar) dari pada persoalan dhahirah (nampak jelas )yang cenderung debatable sejak lama, belum ada ijma tentang demokrasi itu haram, bahkan sebagian ummat islam ada yang menganggap bahwa demokrasi hanya sebagai sarana dan menganggap demokrasi itu masih lebih baik dari rezim tirani refresif bahkan sampai ada yang menyamakan demokrasi itu sama dengan syura’ wal iyyadzubillah
Syariat Islam juga bukan seperti matematika bak hitam putih dalam menghukumi realitas, perlu perpaduan antara fiqh dalil dan fiqh waqi’ sehingga syariat islam memenuhi rasa keadilan dan banyak mengandung maslahat bagi ummat Islam. Menurut saya cara-cara nasehat yang kurang tepat membuat kita lagi-lagi kembali menyempal dari ummat Islam di saat fase kita adalah memenangkan hati dan pikiran ummat.
Kaidah Ushul fiqhiyyah bagi kalangan jihadis
Sejak lama saya memendam rasa ini, bahwa kalangan jihadis cenderung banyak menghasilkan fiqh lemah dari pada fiqh kuat, terpaku kepada dogma dan doktrin yang cenderung mengabaikan dalil lain yang lebih rajih dan lebih maslahat, cenderung nabrak dan memaksakan pendapatnya sendiri, hasil fiqihnya cenderung blunder, untuk itu kenapa syaikh usamah rahimahullah mengoreksi dan mengevaluasi perjalanan jihad global saat ini, dan beliau berkali-kali mengatakan dengan mengutip kaidah fiqih 
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”
Yaitu menghindari tertumpahnya darah kaum muslimin dari operasi-operasi yang ingin mencari maslahat Jihad, Artinya dalam konteks Pilkada sekarang  menolak bahaya dengan berkuasanya orang-orang kafir itu lebih di dahulukan dari maslahat dengan qaul-qaul yang tidak tepat waktunya  
Syaikh Al-Maqdisi dalam wawancaranya pernah mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan mengatakan “Seorang faqih (seorang yang paham hukum Islam ) bukanlah orang yang mampu membedakan antara mafsadat (kerusakan) dan maslahat (kebaikan), seorang faqih adalah orang yang mampu memprioritaskan satu maslahat di antara banyak maslahat ketika maslahat-maslahat itu bertabrakan, dan memprioritaskan untuk menghindari satu mafsadat di antara banyak mafsadat ketika mafsadat-mafsadat itu bertabrakan.”
Ingat  seharusnya kita membuat perbandingan antara Mashalih atau Manafi’ mengambil manfaat dari kedua pilihan, mana yang terbaik atau lebih utama dari keduanya untuk diutamakan ketika melakukanya lalu melakukan perbandingan antara Mafasid / Kerusakan atau Mudharat / Bahaya, tujuannya untuk mengambil sikap di antara 2 keburukan, dan kita mengambil keburukan yang lebih ringan, lalu melakukan perbandingan antara Maslahat dengan Mudharat lalu membandingkannya, untuk menentukan keutamaan melakukan yang baik atau menjauhkan yang buruk ketika maslahat dan keburukan berkumpul menjadi satu.
Dan maaf tulisan ini bukan untuk mendukung akan bolehnya nyoblos, akan tetapi tulisan ini adalah nasehat buat siapa saja untuk tidak bersikap seakan-akan kita berdiri di dua kaki bersama musuh dengan qaul ucapan yang tidak tepat timingnya
Jihad kita Bersama Ummat
Sikap Jihad kita saat ini selalu bertentangan dengan Siyasatu Ammah atau strategi umum yang sedang di jalani Jihad global saat ini, walau kita tidak pernah menisbatkan kepada Al-Qaeda tentunya, akan tetapi aliran Jihad hari ini pasti akan mencoba mirip, walau banyak perbedaanya, tetapi rambu-rambu umunya sangat jelas, kita walau selalu ikut dalam aksi-aksi bela Islam, akan tetapi di saat kritis kita justru tidak sadar mengeluarkan statemen yang merugikan siyasah ummat Islam saat ini, lagi-lagi kita justru keluar menyempal dari ummat Islam, Syaikh Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-’Adam, seorang komandan senior Al-Qaeda lainnya pernah menjabarkan strategi ini dengan mengatakan “ Sesungguhnya salah satu pondasi pokok amal jihadi dan pilar utama eksistensinya adalah meraih dan menarik dukungan orang-orang besar dan terpandang di tengah masyarakat, yaitu para ulama, pemimpin, ketua suku dan orang-orang yang ditaati di tengah masyarakat secara umum. Mereka adalah tiang utama yang sangat penting bagi dukungan dan keikut sertaan masyarakat pada dakwah jihadiyah. Bukan hanya pada kondisi lapang semata, namun juga dalam kondisi yang paling sempit dan sulit. Ia adalah jaminan keamanan bagi seluruh amalan jihad ketika taupan badai menerjang, barisan tergoncang dan musuh bersatu padu memerangi mujahidin. Seorang pemimpin dan tokoh yang ditaati di tengah kaumnya sangat layak untuk menggerakkan sukunya atau mayoritas anggota sukunya untuk berbaris di belakang mujahidin, guna menolong dan mendukung mujahidin. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa salam telah berdoa kepada Allah Ta’ala agar menjayakan Islam melalui salah satu dari dua orang yang lebih Allah cintai; Abu Jahal (Amru bin Hisyam) atau Umar bin Khathab. Ternyata laki-laki yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala adalah Umar bin Khathab. Selesai. 
Ungkapan-Ungkapan Keras Sebaiknya Memperhatikan Waktu
Syaikh Al-Maqdisi pernah mengeluarkan sebuah artikel berharga yang dimuat oleh situs resmi beliau, Mimbar At-Tauhid wa Al-Jihad, pada Rabu (22/10/2013). Yaitu ketika Ikhawanul Muslimin mendapatkan musibah besar yaitu terbunuhnya ribuan kader mereka di Rabiah Mesir tetapi disaat yang sama ISIS yang baru muncul saat itu mengeluarkan statemen yang menyakitkan dan hanya menambah penderitaan saudara-saudara kita disana, dan nasehat bijak beliau adalah nasehat yang tidak memperhatikan timing yang tepat adalah bukan tidakan yang adil … ‘’ Sungguh telah mengejutkan diriku juga pemilihan waktu yang buruk dalam menyampaikan pernyataan-pernyataan yang zalim tersebut, yang tidak mengindahkan musibah besar yang menimpa kaum muslimin di Mesir dan bencana yang menimpa kaum pria dan wanita mereka, anak-anak dan orang dewasa mereka, yaitu konspirasi, penindasan, perburuan, penangkapan, pembungkaman mulut, penodaan terhadap kehormatan, bersatunya orang-orang menyimpang dari seluruh penjuru untuk melawan mereka dan persekongkolan orang-orang jahat tersebut untuk mencabut mereka sampai ke akar-akarnya,  dengan dukungan gelontoran dana dari para thaghut Negara-negara Teluk dan “sepatu-sepatu” Amerika.
Orang-orang yang mengunjungiku di penjara telah memberitahukan kepadaku tindakan yang dilakukan tentara thaghut di Mesir dan pengikut-pengikutnya dari kalangan musuh-musuh Islam yang beragam nama dan bentuknya. Pada waktu yang bersamaan orang-orang yang mengunjungiku di penjara juga telah memberitahukan kepadaku pernyataan-pernyataan orang-orang yang membuat pernyataan itu dan para penulis di sini dan sana. 
Aku pun merasa mual dan heran dengan hilangnya sikap bijaksana, taufik (ketepatan) dan perkataan yang lurus. Aku teringat dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam saat memberikan banyak harta rampasan perang Hunain kepada orang-orang Quraisy. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam meminta maaf kepada kaum Anshar dan menjelaskan alasan tindakan beliau tersebut dengan bersabda:
إِنَّ قُرَيْشًا حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ وَمُصِيبَةٍ، وَإِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَجْبُرَهُمْ وَأَتَأَلَّفَهُمْ،
“Sesungguhnya kaum Quraisy adalah orang-orang yang baru saja meninggalkan kekafiran dan terkena musibah. Aku ingin menutupi kesedihan mereka dan melunakkan hati mereka.” ( HR. Ahmad) 
Faedahnya adalah perlu waktu yang tepat untuk menjaga hati, perasaat dan pikiran ummat Islam, dan timing yang tepat didalam menasehati saudara-saudara kita di jakarta saat ini, disaat agama mereka dihina dan dinistakan, di saat aqidah mereka terancam, disaat mereka berjibaku untuk memilih pemimpin seaqidah justru kita mengeluarkan qaul-qaul yang tidak tepat.
Dalam memperhatikan waktu ini ada kisah di jaman nabi sebagaimana pula apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam: “Wahai Rasulullah, saya mendengar Anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay lantaran ucapannya yang sampai kepada Anda. Jika Anda memang harus melakukannya maka perintahkanlah saya saja, saya akan bawakan kepalanya kepada Anda.”
“Demi Allah, suku Khazraj tahu betul bahwa tidak ada seorang anak suku Khazraj pun yang lebih berbakti kepada orang tuanya daripada diriku. Saya sungguh khawatir jika Anda menyuruh orang lain untuk membunuhnya, jiwaku tidak akan tahan melihat orang yang membunuh Abdullah bin Ubay berjalan di tengah-tengah manusia. Dengan begitu berarti saya membunuh seorang beriman untuk membalas nyawa orang kafir, sehingga saya akan masuk neraka.”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda: “Justru kita akan tetap bersikap lembut dan berinteraksi secara baik dengannya selama dia bersama kita.” 
Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu tatkala kaumnya Abdullah bin Ubay bin Salul siap untuk menghukum Abdullah bin Ubay bin Salul jika dia berulah lagi: “Bagaimana pendapatmu wahai Umar? Demi Allah, seandainya aku membunuhnya ketika engkau mengatakan kepadaku; bunuhlah dia, tentu orang yang fanatik akan bangkit membelanya. Namun seandainya aku perintahkan orang yang fanatik itu sekarang [untuk membunuhnya], tentu dia akan membunuhnya.” Dan tidak semestinya mengucapkan kebenaran tampa memperhatikan waktunya.
Syaikh Usamah Rahimahullah juga pernah mengatakan “Terkadang sebagian ikhwah berdalil dengan kata-kata tajam yang diucapkan oleh sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum. Kata-kata tersebut diucapkan dalam kondisi Islam kuat dan memiliki negara yang berkuasa. Sementara kondisi kita ini saat ini berbeda. Oleh karena itu kita mesti memperhatikan perbedaan antara kondisi kuat dan kondisi lemah. Lalu sampai kepada ‘’Hal yang diperlukan pada periode ini adalah hendaknya kita menyampaikan kebenaran kepada masyarakat dengan ungkapan yang paling mudah dan paling lembut.Karena sebagian masyarakat tidak nyaman dengan kata ‘amil (antek) dan mereka menganggap ini sebagai cacian. Lain halnya jika kata yang kita gunakan adalah wakil (agen) sebagai ganti dari kata ‘amil, atau kata berkhianat kepada agama dan umat atau berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, atau berkhianat terhadap amanah yang dipercayakan kepada mereka, sebagai ganti dari kalimat para penguasa pengkhianat.  Hal ini akan dapat menjaring kalangan kaum muslimin yang lebih besar untuk mendengar kita,  juga kita dapat menyadarkan mereka terhadap kesalahan pandang dan loyalitas mereka kepada penguasa zalim. Inilah misi kita.
Oleh karena itu kita harus menjauhi kata-kata yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap simpati umat Islam terhadap mujahidin.Mujahidin harus menyadari bahwa di antara program bangsa salibis internasional dalam serangannya yang sangat dahsyat ini adalah memperburuk citra mujahidin dan prinsip-prinsip mereka, serta menyebut mereka dengan sebutan-sebutan yang menjauhkan kaum muslimin dari mereka.
Oleh karena itu kita harus memperhatikan secara jeli kata-kata dan rilisan-rilisan kita supaya kita tidak terpatri dalam benak kaum muslimin sebagaimana apa yang dituduhkan kepada kita oleh musuh, bahwa kita adalah orang-orang yang beringas, memaksakan kehendak dan penikmat pertumpahan darah. Hendaknya kita menyadari bahwa mayoritas umat Islam berada di luar kancah peperangan sehingga mereka memerlukan gaya penuturan yang sesuai dengan kondisi mereka. Tidak samar lagi bahwa umat Islam adalah penyokong dan pelindung mujahidin. Oleh karena itu kita harus santun, dengan cara bertutur dengan kata-kata yang menyenangkan sambil menjauhi kata-kata yang menyerang secara kasar, mengkritik dengan nada menghina dan meremehkan pihak yang berseberangan dengan kita. Selesai, 
Syaikh Usamah Rahimahullah pernah menegur Syaikh Abu Bashir Al-Wuhasiy melalui Syaikh Athiyyatullah Rahimahullah tentang rilisan mujahidin AQAP yang tidak memperhatikan hati dan perasaan kaum muslimin saat itu, mata dunia dan dunia Islam tertuju kepada kasus Freedom Flotilla yang mengkritik Israel, yang mana saat itu di publikasikan sebuah ceramah wakil Amir AQAP Syaikh Said Asy-Syihri yang mengatakan untuk menyeru melakukan amaliat penculikan orang-orang barat, para pemimpin keluarga kerajaan dan para aparat keamanan untuk membebaskan seorang akhwat, acara tersebut di publikasikan oeh stasiun TV Al-Arabiyah yang memblowup besar-besaran, dan hal tersebut menggambarkan bahwa seakan-akan mujahidin tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap masalah Palestina dan blokade yang di alami saudara-saudara kita di jalur Gaza, dan sudah seharusnya rilisan Mujahidin tertuju kepada persoalan Palestina, hendaknya kita menjauhkan sikap-sikap hubbut Tamayyuz yaitu sikap ingin tampil beda, menyempal dari ummat Islam lainnya.
Mari kita lebih bijak menasehati saudara-saudara kita di jakarta, di saat genting perlu ke arifan dari kita, kaum jihadis harus lebih bisa beradaptasi dengan kekurangan saudara-saudara kita, buang kesan bahwa kita menantang arus, jangan membuat batasan-batasan sakit yang asing, membuat aliran baru dengan istilah-istilah yang tidak dikenal ummat Islam umum lainnya, disini bukan berarrti kitmanul haq atau menutupi kebenaran atau diam melihat kemungkaran, mengajak nyoblos, ‘’Tidak ! seumur hidup saya belum pernah nyoblos, ya kita memang butuh identitas akan tetapi penyebab kekalahan kita selama ini adalah kita memang selalu berbeda dengan ummat islam lainnya, jika antum tidak nyoblos sebaiknya kita diam itu lebih bermanfaat, ketimbang komentar membuat ummat ragu dan bimbang. Kasian ummat ini sudah lama menderita.
Sofyan Tsauri

Advertisements